Sabtu, 14 Februari 2009

DIGI HARI: DR. CICHA

“Dr. Cicha..”

Yang dipanggil mengangkat pelan kepalanya dari setumpuk bacaan yang ada di mejanya dan tersenyum, “Ya..?”

“Ada keluarga pasien yang mau bertemu..” Suster muda yang berdiri di depan pintu ruangan itu berkata.

“Keluarga pasien? Yang mana ya?” Cicha mengangkat alisnya, mencoba mengingat beberapa kasus yang ditanganinya beberapa hari lalu.

“Yang beberapa minggu lalu di operasi hernia itu lho, Dok. Yang anaknya masih baru beberapa bulan umurnya.” Suster itu menjelaskan dengan tersenyum. “Yang Dokter bilang anaknya punya mata yang bagus banget.” Dia menambahkan ketika melihat muka Cicha yang masih mencoba mengingat-ingat.

“Oh, iya! Keluarga Rahlan itu ya? Ya ya ya.. Saya ingat. Dimana mereka sekarang?” Cicha sekarang sudah ingat dan mulai berdiri dari kursinya. Meninggalkan berbagai tumpuk buku tentang kehidupan di pedalaman.

“Mereka ada di ruang tunggu, Dok.” Suster itu tersenyum, dan pergi meninggalkan ruangan Cicha.

Cicha, dokter muda, perempuan yang baru memasuki usia 30, dan sangat bersemangat. Rambutnya panjang bergelombang, badannya tinggi semampai, dan dia punya mata yang sangat tajam. Tapi dia punya senyuman khas, yang membuat orang lain tersenyum ketika melihatnya.

“Keluarga Rahlan.” Cicha berkata pelan pada dirinya sendiri sambil berjalan menyusuri koridor. Mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Waktu itu Ibu dari Rahlan kecil datang ke rumah sakit tempat Cicha bekerja sebagai Dokter Spesialis Bedah Anak dengan muka panik. Cicha kebetulan baru keluar dari ruangannya dan langsung bertemu dengan Ibu muda yang sedang bingung ini.

“Dokter! Tolong, Dok! Tolong anak saya! Dia ngga mau berhenti menangis. Udah beberapa jam, Dok! Dia seperti menahan sakit!” Ibu Rahlan, yang masih terhitung Ibu muda, waktu itu merepet dengan cepat. Panik dengan keadaan anak pertama mereka.

“Tenang, Bu. Tenang..” Cicha mencoba menenangkan Ibu muda itu dan membawa mereka ke ruang periksa. “Biar saya periksa dulu, ya?”

Cicha lalu memeriksa bayi yang baru berumur beberapa bulan itu. “Matanya bagus banget ya, Bu?”

Ibu muda itu hanya tersenyum lemas. Dia masih panik.

Cicha mulai memeriksa Rahlan kecil. Bayi laki-laki itu masih menangis dengan keras. “Mulai kapan anak Ibu seperti ini, Bu..?”

Ibu muda itu masih terdiam, melihat dengan cemas anaknya yang sedang menangis di ranjang periksa itu.

“Ibu..” Cicha berkata pelan. “Saya butuh bantuan Ibu, tolong jawab pertanyaan saya..” Cicha tersenyum kepada Ibu itu. “Anak Ibu mulai menangis seperti ini ketika dia sedang apa?”

“Ehhh.. Kalo buang air besar, Dok.” Ibu itu akhirnya bersuara, walaupun dengan lirih.

“Baik. Sepertinya anak Ibu ini terkena hernia.” Kata Cicha pelan. Ibu itu terkejut, wajahnya menunjukkan pertanyaan. “Tenang.. ini biasa terjadi. Apakah anak Ibu ini lahir prematur?”

Ibu itu mengangguk pelan.

“Baiklah. Ibu tenang saja, ya.. Anak Ibu tidak apa-apa, kok. Tapi harus ada beberapa pemeriksaan dulu, untuk menentukan langkah selanjutnya. Ibu bersedia menunggu terlebih dahulu kan?” Cicha menenangkan Ibu itu. “Dimana suami Ibu?”

“Sedang dalam perjalanan dari kantornya..”

Cicha lalu memanggil perawat untuk membantunya. Melakukan beberapa pemeriksaan awal. Ibu muda itu menunggu dengan sabar, masih lemas, di kursi di depan ruangan. Tidak lama kemudian suaminya datang, dan mereka saling berpegangan tangan. Pasangan muda..


Yup. Cicha masih ingat dengan keluarga Rahlan ini, dan dia tersenyum kecil ketika mengingat si Ibu muda yang panik itu. Dan selintas pikiran kecil lewat, bahkan sampai sekarangpun dia belum berpikiran untuk berkeluarga.

Pintu ruang tunggu terbuka, dan Cicha melihat keluarga kecil Rahlan ada di dalamnya. Cicha menyapa mereka dengan hangat, “Selamat pagi..”

“Selamat pagi, Dok..” Ibu Rahlan tersenyum dengan hangat. Sekarang dia terlihat lebih cantik. Disebelahnya, seorang laki-laki, lebih kecil dari istrinya, juga tersenyum, “Rahlan sekarang sudah bisa tertawa lagi, Dok. Terima kasih.”

“Sama-sama..” Cicha tersenyum, dan melihat ke arah bayi laki-laki yang digendong ibunya. “Halo, Rahlan.. Udah bisa ketawa ya sekarang?” Cicha mengambil Rahlan dari gendongan Ibunya, dan menggendongnya pelan. Rahlan tertawa senang. Dia seperti mengerti dengan suasana bahagia ini. Dari dulu Cicha memang ingin memiliki adik. Karena selama ini ia hidup sendiri di keluarganya. Dia anak tunggal.

Tiba-tiba suster yang tadi masuk pertama kali ke ruangan Cicha, datang dengan wajah yang sangat panik. “Dok. Ada keadaan darurat. Dokter diminta untuk segera ke ruangan gawat darurat!”

“Ada apa?” Cicha memberikan Rahlan kecil kepada Ibunya lagi, meminta ijin untuk pamit, dan pergi ke ruangan gawat darurat bersama suster itu.

“Anak umur sepuluh tahun, Dok. Laki-laki. Dia mengalami pendarahan di kepalanya.” Suster itu menjawab dengan cepat.

Mereka berdua menyusuri jalan menuju UGD.

“Jatuh dari sepeda?” Tanya Cicha. Mereka berbelok ke arah kanan. UGD ada di dua belokan setelah itu.

“Bukan, Dok. Anak itu sedang bermain di kamar bersama temannnya. Mereka meniru tontonan di televisi. Mereka meniru permainan gulat itu lho, Dok. Dan entah bagaimana anak ini jatuh dari kasur, dan kepalanya terbentur pinggiran ranjang, dan terantuk tembok kamarnya.”

Satu belokan lagi menuju UGD.

Cicha terdiam. “Orang tuanya?”

“Bekerja semua.”

Mereka telah sampai di UGD, suster itu menunjukkan ruangannya dan menunggu di belakang Cicha.

Cicha merasa kasihan dengan anak itu. Mukanya pucat, dia pingsan. “Sudah berapa lama dia pingsan?”

“Beberapa jam, Dok.” Suster itu memberitahu di belakangnya.

“Kita harus mengoperasi anak ini. segera.” Cicha mempersiapkan diri. “Orang tuanya sudah dihubungi?”

“Sudah, Dok. Tapi tidak ada jawaban dari keduanya.”


Beberapa jam kemudian Cicha keluar dari ruangan operasi. Mukanya sangat lelah. Dan dia menangis. Dia lalu pergi ke ruangannya, menenangkan diri.

Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pelan di pintu yang menyadarkan Cicha. “Dok.. Orang tua anak itu sudah datang.”

Cicha mengangguk pelan. Dan ia beranjak dari kursinya. Pergi menemui keluarga anak itu. Tugas paling sulit bagi seorang dokter, bukan melakukan operasi dengan tingkat kesulitan yang tinggi atau semacamnya, melainkan memberikan kabar yang tidak menyenangkan kepada keluarga pasien.

“Bagaimana, Dok? Bagaimana anak saya?” Seorang Ibu gemuk, berusia sekitar 40-an tahun langsung menghampiri Cicha.

“Apakah dia baik-baik saja? Apakah kami bisa melihatnya?” Sekarang suaminya yang bertanya.

Cicha terdiam. Dan, “Maaf. Kami sudah berusaha semampu Kami. Tapi.. Anak Ibu sudah datang terlalu terlambat. Kami sudah mengusahakan apa yang Kami bisa. Tapi..”

Kalimat Cicha tidak terselesaikan, karena tangis meledak dari Ibu itu, “Anakkkuuuuuuu..”

Cicha bertanya dengan pelan, “Maaf. Tetapi kenapa sangat terlambat anak Bapak dibawa ke rumah sakit ini?”

“Terlambat? Anda bertanya kenapa terlambat?!! Paman anak saya sudah datang langsung ketika anak saya pingsan di rumah!! Tapi apakah Anda tahu apa yang terjadi??!!!”

Cicha kaget.

“Adik saya yang membawa anak saya sudah bilang kalo keponakannya pingsan. Tapi dia masih ditanya-tanya apakah ada biayanya untuk berobat??!! Bisa Anda bayangkan?!!! Hah??!!! Anak saya sudah sekarat, tapi masih ditanya soal uang??!! Dan Anda bertanya kenapa Kami terlambat membawanya ke rumah sakit???!!

Cicha tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kami ini memang orang kecil!!! Orang miskin!! Tapi apakah kami tidak berhak untuk mendapatkan pengobatan!! Dia anak satu-satunya yang kami miliki!!”

Istrinya masih menangis dengan histeris di belakang suaminya yang masih terlihat sangat marah.

“Bukan kami yang terlambat!! Tapi Anda.. Anda..!!
Dia menunjuk ke Cicha, “ANDA YANG TELAH MEMBUNUH ANAK SAYA!!”

Cicha syok mendengarnya. Dia lemas. Kakinya tiba-tiba terasa sangat kecil, tidak mampu menyangga tubuhnya. Dia pergi meninggalkan ruangan itu. Pergi meninggalkan keluarga itu. Dia menangis..


“Aku ngga tahu harus ngomong apa..” Digi berkata pelan. Di depannya Cicha baru saja selesai bercerita. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu memang ngga harus ngomong apa-apa, Gi.” Cicha tersenyum, tapi mukanya memerah karena menahan tangis.

Cicha ini adalah teman masa kecilnya dulu. Umur mereka emang beda jauh, tapi Digi dan Cicha udah kayak adik-kakak. Cicha yang anak tunggal, dan Digi yang memang ngga pernah punya kakak perempuan.

Waktu kecil, mereka sering main dokter-dokteran. Cicha selalu menjadi dokternya. Digi? Pasti jadi pasiennya. Karena waktu kecil dia penyakitan, tiap bulan pasti ke dokter.

“Kalo aku udah jadi dokter nanti, kamu ngga perlu mahal-mahal ke dokter, Gi. Sama aku aja. Gratis!” Itu yang selalu diucapin sama Cicha. Dia dari kecil memang bercita-cita menjadi dokter. Dan cita-cita itu akhirnya memang terwujud.

“Trus apa yang bakal kamu lakuin sekarang?” Tanya Digi.

Mereka berdua lagi ada di sebuah coffee shop. Ngga sengaja Digi ketemu Cicha disini, setelah sekian lama mereka ngga pernah ketemu. Ngga nyangka kalo Cicha bakal cerita kayak gitu ke Digi.

“Aku tahu apa yang harus aku lakuin, Gi.” Kata Cicha pelan. Dan tersenyum. Senyum lama yang masih sama.

Diam-diam Digi selalu mengagumi Cicha. Belum pernah dia ketemu seseorang yang bener-bener punya pendirian yang keras. Dari kecil, Cicha selalu berusaha untuk dapetin apa yang dia pengen. Dan dia selalu berusaha dengan sangat keras buat ngewujudin cita-citanya buat menjadi dokter.

Bukan hanya dokter biasa, tapi dokter anak, plus spesialisasi bedah, lebih dari tujuh tahun Cicha habisin buat nguasain semua yang dia butuhin. Dan itu semua dia lakuin dengan kerja keras.

Ngga tau apa yang bikin Cicha pengen jadi dokter anak. Mungkin karena dia seumur hidupnya ngga pernah punya adik. Digi tahu, Cicha sebenernya cuman kesepian aja.

Cicha mengambil beberapa buku dari tasnya. Semuanya tentang kehidupan di pedalaman. Digi ngga ngerti dengan maksud Cicha.

“Aku bakalan keluar dari sistem ini, Gi. Keluar dari kehidupan materialistis kota. Aku akan hidup berpindah dari satu pedalaman ke pedalaman lainnya. Aku bakal jadi dokter yang sesungguhnya buat masyarakat yang ngebutuhin. Langsung. Cuma ada aku dan pasien-pasien ku nantinya.”

Digi menatap mata Cicha. Mata yang penuh dengan keyakinan.

“Biar ngga ada lagi orang yang harus kehilangan nyawanya hanya karena masalah uang.”



*thx buat chabe y udah ngebantuin :)
Moga elo jadi dokter yang baik ya..!
amin.. :D

Sabtu, 07 Februari 2009

DIGI HARI: SATPOL PP

“Heh!! Mau diapain itu dagangan saya!! Heh!! Jangan!! Jangaaaann!!” Seorang Ibu berteriak-teriak sambil mempertahankan barang dagangannya dari seorang laki-laki berseragam.

“Tapi Ibu ini kan berdagang di area yang memang dilarang untuk berdagang!!” Jawab laki-laki berseragam itu dengan keras. Tangannya masih berusaha merebut barang dagangan dari tangan Ibu itu.

“Jangann!! Jangaaaannn!!” Teriakan Ibu itu semakin kencang dan keras. Tangannya akhirnya lemas dan terlepas dari barang dagangannya. Ia lalu jatuh terjerembab ke tanah yang keras. Ibu-ibu lainnya yang sedari tadi berada di belakang membantunya berdiri.

“Ingat, Kami sudah memberikan peringatan kepada Ibu sebelumnya. Di area ini memang tidak diperuntukkan untuk berjualan. Dan sesuai peraturan, Ibu harus pindah. Tapi karena Ibu tidak pindah juga walaupun sudah diberikan peringatan, jadi Kami terpaksa bertindak.” Kali ini laki-laki berseragam itu berkata dengan tenang. Di belakangnya banyak laki-laki yang berseragam sama sibuk mengangkut gerobak-gerobak dagangan ke dalam sebuah truk.

Siang semakin panas. Penggusuran itu dilakukan tepat ketika matahari berada di atas kepala. Hampir tidak ada awan sedikitpun yang bisa memberikan keteduhan. Ibu itu terduduk lemas kembali di tanah. Tangisannya sekarang terdengar pelan, ia terisak-isak. Orang-orang di belakangnya hanya bisa menepuk bahunya dengan lembut, sekedar memberikan tanda keprihatinan.

Truk sekarang sudah penuh dengan segala macam perangkat dagangan. Dan laki-laki berseragam tadi berkata, “Bagi yang ingin mengambil kembali barang dagangannya, silahkan ke kantor kami, nanti kita urus bersama disana. Terima kasih.” Ia pun pergi dengan mobil bak, yang dibelakangnya duduk rapih beberapa laki-laki lainnya yang berseragam sama. Sebagian lainnya masih berada di tempat untuk berjaga-jaga.

Tidak lama kemudian, alat-alat berat mulai berdatangan, dan langsung mulai menghancurkan lapak-lapak, warung-warung, dan tempat berdagang. Semuanya pelan-pelan dibersihkan dan dirapihkan.

Ibu itu sekarang histeris lagi, teriakannya semakin memilukan hati, ketika ia melihat, tempatnya selama bertahun-tahun menghidupi keluarganya selama ini hancur dalam waktu beberapa menit saja.

Digi yang menyaksikan semua itu dari tv di kamarnya hanya terdiam. Setiap pikiran yang muncul di kepalanya, langsung dipatahkan dengan pikiran lainnya yang langsung muncul.

“Gila ya??! Maunya apa sih pemerintah itu?!! Rakyat kecil koq malah disiksa kayak gitu?? Kalo udah giliran pemilu aja, kayaknya langsung pada manis semua sama rakyat kecil!!” Salah satu komentar warga yang ada di lokasi yang diambil oleh reporter tv itu.

Siaran berita siang itu emang disiarin secara langsung. Dan ini katanya adalah penggusuran terbesar yang dilakuin sama pemerintah daerah. Di belakang warga yang lagi ngasih komentar itu, terlihat alat-alat berat masih sibuk menghancurkan dan membersihkan lapak-lapak.

Tiba-tiba terjadi keributan. Beberapa warga laki-laki kayaknya udah ngga bisa nahan emosi dan akhirnya terjadi dorong-dorongan. Barisan satpol pp dan polisi yang membarikade penggusuran itu awalnya masih tenang-tenang aja, tapi lama-kelamaan, akhirnya emosi mereka juga kebakar, dan akhirnya terjadi dorong-dorongan dan pemukulan. Kerusuhan kecil mulai terjadi disana.

Reporter berita yang lagi di tonton sama Digi itu, menghampiri salah seorang korban penggusuran, seorang Ibu yang udah paruh baya, dan menyodorkan mikrofon, “Ada yang mau disampaikan, Bu?”

Ibu paruh baya itu hanya terisak pelan. Reporter tv itu masih menyodorkan mikrofon ke dekat mulutnya. Tiba-tiba ibu itu meledak dengan kemarahannya, “Tiap hari aja saya dimintain iuran. Saya udah kasih semuanya ke mereka itu. Apapun yang mereka minta saya kasih!! Asal saya bisa tetep dagang disini. Tapi liat sekarang?! Mana mereka yang biasanya mintain iuran itu? Mana mereka yang katanya ngejamin keamanan buat dagang?? Mana??!!” ibu itu berteriak histeris.

Reporter tv itu masih terlihat tenang, dan melanjutkan pertanyaannya. “Ada komentar lain, Bu?”

“Dua puluh tahun, Mba! Dua puluh tahun!! Udah selama itu saya jualan disini. Selama ini ngga ada apa-apa. Selama ini bae-bae aja. Saya cuman orang kecil, Mba. Nyari duit juga buat makan sama sekolah anak saya. Tapi kalo udah gini, apa yang mau saya bilang sama anak saya nanti?? Apa, Mba?? Apa??!!”

“Terima kasih, Bu.” Reporter tv itu kemudian pergi dan gambar berganti ke kerusuhan kecil antara warga yang digusur dagangannya dengan para petugas. Dibelakangnya pemandangan alat-alat berat untuk menggusur masih bekerja menghancurkan warung-warung.

Apa yang bakal dibilang si Ibu itu ke anaknya nanti? Bilang kalau anaknya harus berhenti sekolah karena sekarang tempat Ibunya nyari uang udah ngga ada? Ngga ada yang tahu. Si Ibu itu aja ngga tahu, apalagi reporter tv tadi, yang mungkin habis meliput langsung pergi ke tempat yang penuh dengan AC dan makan enak disana. Karena apapun tadi, toh itu cuman bagian dari pekerjaannya aja.


Digi jadi inget waktu dulu dia masih semester-semester awal kuliah. Waktu dia masih jadi anak pers mahasiswa. Waktu itu lagi heboh-hebohnya soal penggusuran dimana-mana. Dan seringnya penggusuran yang dilakuin itu pasti ngga berjalan lancar, pasti aja kejadian yang namanya ribut-ribut. Bahkan sampai bentrok.

Digi jadi berpikir, apa rasanya petugas-petugas yang turun langsung ke lapangan, ngurusin warga yang notabene adalah orang-orang kecil juga? karena yang sering ditampilin di tv adalah kekerasan yang dilakuin petugas-petugas itu waktu ngelakuin penertiban. Kadang ada yang dengan senang hati ngehancurin lapak-lapak. Ada yang langsung ngebuang semua bahan dagangan gitu aja. Apalagi kalo ada razia PSK, kadang mereka sambil tertawa ngelakuinnya.

Apa bener yang ditampilin di tv itu sesuai sama kenyataannya? Karena Digi adalah tipe orang yang ngga percaya sampai dia ngebuktiinnya sendiri.

Akhirnya dia punya ide buat bikin satu artikel buat majalah kampusnya, soal petugas yang seringnya kebagian jatah buat ngurusin hal-hal penggusuran ini. satpol pp. Tapi dia mau lihat dari sisi lainnya. Dan dia harus ngobrol banyak sama orang ini.

Setelah tanya kesana kesini, akhirnya dia ketemu sama yang namanya Pak Sam. Dia dulu pernah jadi anggota satpol pp selama tiga tahun. Dan akhirnya mutusin buat keluar karena satu alasan yang sampe sekarang bikin Digi terkagum-kagum sama Pak Sam ini.

Pak Sam adalah orang yang sederhana. Rumahnya masih rumah kontrakan dengan dua kamar. Waktu itu Pak Sam baru berumur 30-an, dia punya satu istri dan satu anak yang masih belum genap satu tahun umurnya.

Digi ngobrol di rumahnya waktu itu. Sore-sore, habis ujan.

“Gimana perasaan Bapak waktu dapet tugas ngegusur-gusur gitu?” Digi mulai pertanyaan pertamanya.

Pak Sam hanya tersenyum, dan menghisap rokok kreteknya dalam-dalam. “Gimana ya, Mas? Waktu itu namanya juga pekerjaan, dan ada perintah dari atasan, ya saya lakuin aja sesuai kapasitas saya.”
“Pernah ada perasaan kasihan ga, Pak?” Digi bertanya dengan hati-hati.

“Setiap saat, Mas. Setiap kali saya ngelakuin kerjaan itu. Setiap saya melihat Ibu-ibu yang nangis sambil teriak-teriak histeris karena lapaknya saya hancurin. Setiap kali ada Ibu-ibu pingsan karena sudah tidak tahan dengan emosinya.”

Pak Sam menyeruput teh hangatnya dengan pelan, dan menatap keluar. Hujan mulai turun lagi dengan pelan.

“Setiap kali saya nertibin mereka-mereka yang memang melanggar aturan itu, selalu terbayang dibelakang mereka adalah anak, suami, istri dan keluarga lainnya yang bergantung sama mereka.” Pak Sam terdiam pelan, dan, “Padahal saya sama dia juga ngga ada bedanya. Sama-sama orang kecil.”

Digi bertanya pelan, “Trus.. Apa yang Bapak lakuin?”

“Ngga ada, Mas. Saya hanya menjalankan tugas saja. Bagi saya waktu itu sudah jelas. Hukum sudah mengatur semuanya. Yang melanggar, ya harus dihukum. Siapapun dia. Dan itu memang jadi pedoman kami ini yang ngejalanin tugas dilapangan.”

Digi mau ngelanjutin pertanyaannya, tapi ngga jadi, karena Pak Sam langsung ngelanjutin jawabannya. “Dan terkadang, kami semua dibutakan dengan itu. Lupa kalau yang kami hadapi adalah manusia. Sama-sama manusia.”

“Kayak yang diliatin di tv-tv itu ya, Pak?”

“Yahh.. saya ngga memungkiri kalo yang Mas liat di tv itu juga emang beneran terjadi. Tapi bukannya tv itu cuman nampilin apa yang pengen diliat sama penontonnya?” Pak Sam tersenyum miris.

“Terus.. Apa yang bikin Bapak mutusin buat keluar dan berhenti akhirnya?

Pak Sam terdiam. Ia mematikan rokoknya yang masih tersisa setengah. “Waktu itu hari Senin. Saya masih ingat betul hari itu. Seperti biasa, Kami dapat perintah untuk menertibkan pedagang-pedagang liar yang menyalahi aturan. Dan Kami pun memang sudah biasa melakukannya. Dan waktu itu adalah tahun ketiga saya.”

“Sampai ketika Kami tiba di lokasi, suasana sudah panas. Orang-orang sudah siap buat ngelakuin perlawanan. Dan Kami pun sudah siap untuk melakukan penertiban. Saya waktu itu memimpin teman-teman lainnya untuk melakukan penertiban dengan halus. Sebisa mungkin menghindari bentrok dengan para pedagang.”

“Awalnya semua berjalan lancar. Kerumunan warga yang mau ngasih perlawanan masih bisa di tahan sama teman-teman. Tapi namanya juga manusia ya, Mas, semuanya punya keterbatasan. Dan akhirnya pecah juga bentrok itu. Anak buah saya yang masih muda-muda udah pada emosi, dan akhirnya saya akuin, ngelakuin apa yang seharusnya ngga mereka lakuin.”

“Waktu itu saya lagi di tengah-tengah lokasi, agak jauh dari kerumunan orang-orang itu. Sampai akhirnya dikabarin salah seorang anak buah saya, ada bentrok, dan ternyata bentrok itu makan korban. Satu orang tewas. Saya kaget dan langsung menuju lokasi.”

Berhenti sejenak, Pak Sam menelan ludahnya pelan-pelan, dan ngelanjutin ceritanya.

“Ternyata yang meninggal adalah seorang Ibu, sudah berumur lebih dari lima puluh tahun. Ia ada di kerumunan paling depan. Dan waktu terjadi bentrok, dia kedorong-dorong, dan akhirnya terinjak-injak.”

“Yang bikin saya shock, ternyata Ibu itu adalah tetangga saya dulu di Kampung. Waktu saya ngeliat siapa orang yang meninggal itu, saya langsung kaget, dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang masih saya ingat sampai sekarang, teriakan anak-anaknya yang bikin hati saya kayak keiris.”

Pak Sam berhenti bercerita dan matanya mulai basah.

“Sejak itu saya mutusin buat keluar dan mencari pekerjaan lain. Pekerjaan yang ngga perlu berurusan dengan orang kecil dan segala macamnya.”


Pak Sam. Berapa banyak orang yang tahu cerita kayak gini. Mungkin ngga ada yang peduli juga. orang-orang yang memberikan perintah dan pekerjaan dari tempat yang jauh dari panas matahari. Jauh dari kelaparan mencari makan. Yang dipeduliin cuman hukum dan undang-undang aja. Ngga peduli kalo yang mereka hadapin adalah manusia, yang dibelakangnya ada manusia-manusia lain yang saling bergantung.


Digi tersadar dari lamunannya ketika melihat sosok Ibu yang pertama kali dilihatnya di tv tadi, kini tertangkap kamera terlihat pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Di depannya sekarang berdiri tanah yang dulunya berdiri tempatnya berjualan. Hanya debu dan pasir yang tersisa di udara.

Mungkin beberapa waktu lagi ia bahkan sudah tidak tahu dimana dulu tempatnya mengais rejeki berada. Berganti dengan entah apa nantinya. Mungkin sebuah taman hijau, atau malahan sebuah bangunan yang tidak mungkin digusur. Sebuah Mall.

Sabtu, 31 Januari 2009

DIGI HARI: GALAU

10 SMS dan 20 MISSED CALLS

Digi ngeliat layar handphonenya. Malam itu dia baru aja pulang. Masuk kamar, lampu ngga dia nyalain, dan langsung tiduran, gelap-gelapan. Satu-satunya cahaya, cuman dari layar hp-nya aja.

Sambil ngelurusin punggungnya yang seharian di pake buat duduk dan berdiri, Digi mengatur nafasnya dengan pelan. Sambil ngeliatin layar handphonenya yang masih bertuliskan jumlah pesan dan dan telepon yang masuk tadi.

Pikirannya masih mengambang kemana-mana. Ngga tau kemana. Digi ngebiarin pikirannya melayang kemanapun dia pengen. Sampai akhirnya lampu layar handphonenya mati, dan dia ketiduran..


Beberapa jam sebelumnya..

Digi lagi ada di bandara. Bukan di bandaranya persis seeh.. tapi dia lagi ada di depan area lintasan pesawat. Tenang, dia ngga nekat sampe nongkrong di depan lintasan pesawat. Tapi di bandara di kotanya ini emang ada satu daerah luas yang persis ada di depan lintasan pesawat. Di depan pagar pembatas bandara.

Biasanya tempat ini kalo sore-sore rame didatengin sama penduduk dan orang-orang yang pengen ngeliat pesawat take off atau landing dengan lebih deket. Bener-bener deket, sampe suara bising mesin pesawat kedengeran jelas. Apalagi kalo ada pesawat yang mau mendarat atau terbang, itu rasanya bisa cuman sejengkal dari kepala kita. Sensasi yang seru banget.

Tapi malam itu udah ngga sore. Malam itu juga habis ujan. Jalanan aspal tempat Digi nongkrong di atas motor tuanya, juga basah. Rumput di atas lahan luas di depannya juga basah. Dan yang pasti malam itu gelap. Gelap dan sepi.

Cuman ada satu pemandangan yang mungkin indah kalo diliat dari sisi lain. Lampu lintasan pesawat yang nyala. Lampu bandara yang terang benderang. Dan lampu pesawat yang kedap-kedip. Plus kesibukan orang-orang di bandara yang malah jadi pemandangan yang asik.

Dan ini adalah tempat paling cocok buat Digi kalo perasaannya lagi ngerasa ngga nyaman. Gelisah ngga tau kenapa. Pikirannya entah mikirin apa. Galau.

Ngga tau kenapa juga Digi tiba-tba ngerasa kayak gini. Padahal hari ini juga ngga ada yang spesial buat Digi. Semuanya kayak hari-hari yang biasanya.

Kayak hari-hari yang biasanya..? oh ya..?


Pertama kali di pagi hari itu yang dikerjain Digi adalah ngurusin skripsinya. Dia harus ngerjain revisian proposalnya ke Mas Worry. Jam tujuh pagi janjiannya. Emang pagi banget, tapi ini permintaan Mas Worry, karena dia pagi-pagi juga masih ada acara lain. Dan Digi ngga punya pilihan lain, selain ngikutin. Namanya juga mahasiswa, udah kalah status duluan sama dosennya. He..

Jam tujuh kurang lima Digi udah nyampe di depan kantor jurusan. Kampus masih sepi banget, karena sekarang emang lagi jamannya ujian, jadi ngga banyak yang dateng. Lagian ujian juga biasanya dimulai jam setengah delapan. Cuman ada Pak Engkus yang lagi mondar-mandir bersihin kantor jurusan.

“Eh, Gi.. Tumben pagi-pagi udah sampe sini..” Pak Engkus yang baru nyadar ada Digi, menyapanya.

:Biasa, Pak.. Skripsi.” Kata Digi singkat. Dia masih ngantuk.

“Wahh.. bentar lagi lulus dong.” Pak Engkus tersenyum.

“Amin. Amin.” Digi masih ngantuk.

“Yah.. Kok ngantuk gitu, Gi..? Mau dibikinin teh manis anget..? lumayan biar ga ngantuk. Sambil nunggu..” Pak Engkus nyadar juga kalo nyawa Digi belum ngumpul semuanya.

“Enggak usah, Pak. Makasih. Bentar lagi juga dosennya dateng paling. Janjian jam tujuh soalnya.” Digi menolak halus.

“Ya udah.. Kalo mau teh manis, tinggal kebelakang aja. Bapak ada disana. Ya..?” Kata Pak Engkus sambil pergi. Pak Engkus emang ramah. Mahasiswa yang rata-rata kuliahnya lama, kayak Digi ini, pasti jadi lebih kenal sama Pak Engkus.

Digi ngeliat jam di tangannya. Udah jam tujuh lebih 10 menit. Ngga biasanya Mas Worry telat kayak gini. Kemana dia ya..? Digi nyoba sms Mas Worry.

10 menit udah nambah lagi, tapi Mas Worry masih belum dateng juga. Sekarang Digi makin ga tenang. Kalau hari ini dia ga jadi bimbingan, ngga jamin kapan lagi mood-nya bisa ngumpul lagi buat ngerjain skripsinya. Tiba-tiba ada suara langkah di tangga, ini kali Mas Worry baru dateng. Tapi koq bunyinya kayak sepatu hak tinggi..?

Mba Serry ternyata, sekertaris jurusan. Digi nyender lagi di kursinya.

“Hey, Gi..” Mba Serry nyapa Digi waktu mau masuk ke kantor jurusan. “Nungguin siapa..?”

“Hai, Mba..” Digi bales nyapa Mba Serry. Umurnya masih muda, 25-an. Lumayan cantik. Tipikal wanita karier gitu deh. Dan pastinya disukain mahasiswa yang sering berurusan sama jurusan. Mungkin cuman dia daya tarik jurusan buat mahasiswa. “Nungguin Mas Worry, Mba. Bimbingan.” Kata Digi sambil nunjuk map plastik biru isi proposal skripsinya.

“Ohh.. Belum dateng ya? Ya udah tungguin aja dulu.” Mba Serry tersenyum dan masuk ke kantor jurusan.

Digi ngecek hp-nya. Masih belum ada jawaban juga dari Mas Worry. Duh.. padahal dia udah berharap banget bisa bimbingan. Mumpung moodnya lagi bagus buat ngerjain skripsi ini.

Jam setengah delapan. Digi masih sendirian aja di depan kantor jurusan. Ujian udah dimulai di kelas-kelas. Sebelumnya banyak anak-anak yang buru-buru masuk ke ruangan ujian. Ngga ada satupun yang dikenal Digi. Jadi sadar, dia udah kelamaan di kampus, sampe ngga kenal lagi ade angkatannya yang mungkin udah beda berapa tahun sama dia.

Hp tasnya bergetar. Jawaban dari Mas Worry kali.. Digi ngecek hp-nya, ternyata bukan. Hp-nya getar karena batterenya mau abis. Low batt. Semalem lupa nge-charge. Hufh.. Digi mulai bete nunggu.

Tiba-tiba Mba Serry muncul di pintu kantor jurusan. “Gi.. Tadi Mas Worry nelpon. Katanya dia ada urusan mendadak ke luar kota. Dan dia minta disampein ke kamu, kalo bimbingannya diundur lagi aja. Nanti kamu disuruh ngehubungin dia kalo dia udah pulang.”

Digi lemes dengernya, “Sampe kapan, Mba dia perginya..?”

“Katanya sih beberapa minggu.”

Damn!! Digi mengutuk di dalem hatinya. Gini neeh kalo dosen udah pada kebanyakan proyek. Jadi lupa sama tugas sebenernya. Jadi lupa kalo mereka punya tanggungan banyak mahasiswa.

Emang seeh kalo mau ada pembenaran, gaji dosen emang ngga seberapa, apalagi dosen kampus negeri. Makanya pada mroyek kesana-sini. Sampe akhirnya bisa diitung jari, berapa kali mereka keliatan di kampus. Tapi emang urusan mahasiswanya kalo gaji dosen kecil..?

Belum lagi kalo dosen-dosennya udah pada dapet beasiswa buat ngelanjutin sekolah mereka. Tambah lagi bakalan ngilang dari kampus. Ada yang bilang jadi dosen emang buat dijadiin batu loncatan biar dapet beasiswa dari kampus. Makanya banyak temen angkatannya Digi yang pengen banget jadi dosen. Minimal dimulai dari asisten dosen lah. Ckckck..

Kalo udah mulai kurang pengajar gini, jadi aneh rasanya bayar kuliah mahal-mahal. Dosen pengganti biasanya dosen-dosen muda yang baru lulus, dan belum punya banyak pengalaman. Atau kalo ngga, dosen-dosen tua yang dinilai udah ngga produktif lagi buat diajakin proyek. Walah..

Digi udah kepalang kesel, dan akhirnya dia mutusin buat pulang. Di jalan dia nyoba nelpon pacarnya. Mau numpahin semua kekesalannya. Tapi ngga ada jawaban. Dia coba sms. Tapi ngga ada balesan juga. Pending malah. Dia nyoba nelpon lagi, tapi sekarang hp pacarnya malah ngga aktif.

“Duh.. Kemana seeh dia? Giliran dibutuhin kayak gini malah ngga ada??!!” Digi mulai ngedumel sendiri. Nyoba nelepon pacarnya lagi, tapi batere hp-nya udah ngga kuat, dan akhirnya mati.

“Huh..” Digi ngelempar hp-nya ke dalem tasnya. Dan mutusin buat pergi. Ngga tau kemana..


Jhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnngggggggggggg..

Suara pesawat yang baru aja take-off ngebangunin Digi dari lamunannya. Pesawat itu ternyata gede banget kalo diliat dari bawah langsung. Dan amaze banget, dia ada di bawah persis pesawat itu waktu terbang. Suara bisingnya emang bener-bener bikin berisik. Tapi justru itu yang bikin seru. Kadang kalo pas ada pesawat yang lewat, Digi suka teriak sekenceng-kencengnya, nyoba ngalahin suara pesawat itu. Ngga mungkin emang. Tapi setidaknya itu bikin sedikit lega. Bikin bebannya kebawa teriakannya. Walaupun kadang abis itu balik lagi.

Tadi dari kampus dia ngga langsung pulang. Dia terlalu kesel buat balik ke kost dan ngga tau harus ngapain. Ke kantor juga ngga tau mau ngapain karena emang lagi sepi order belakangan ini. Akhirnya dia muter-muter ga jelas dan mampir ke kost salah satu temennya. Tapi ternyata temennya ini juga lagi stress.

“Aduh.. Orang-orang itu emang pengen tau aja ya urusan orang..?” Setho, temen yang kost kost-annya disamperin Digi, malah ngeluh waktu Digi nyampe.

“Orang-orang siapa..?” Kata Digi, duduk di kasur.

“Ya orang-orang..” Setho ngulang kata-katanya. “Orang-orang itu. Pantesan aja artis banyak yang stress kalo dikejar-kejar infotainment karena gossip. Gw aja yang bukan artis stress dikejar-kejar.”

“Lo di kejar siapa seeh..??” Digi masih ngga ngerti topik yang diomongin sama Setho.

“Orang-orang itu, Gi! Orang-orang itu!!” Setho, yang cuman pake kaos oblong tipis putih dan boxer item, ngebalikin badannya ke arah Digi. “Orang-orang itu.. bisanya cuman nanyain kapan gw lulus?” Setho mendengus kesel. “Kapan gw lulus? Gw aja ngga tau. Koq nanya?!!”

Digi sadar, kalo dia dateng di waktu yang salah.

“Entar kalo gw udah lulus, ditanyain kapan kerja. Entar kalo udah kerja, ditanyain kapan udah punya pacar. Udah punya pacar, ditanyain kapan nikah. Udah nikah, masih juga ditanyain kapan punya anak. Eh.. udah sampe punya anak, entar pasti ditanyain, “Katanya mau cerai ya?” Dan pasti bisanya cuman ngasih saran-saran doang!! Ahhh.. orang-orang itu!!” Setho ngerebahin badannya di kasur. Setelah agak tenang, dia nanya, “Tumben ke sini sore-sore. Ada apa..?”

Digi ngga ngejawab, cuman tersenyum. Orang-orang. Emang udah sifat dasar manusia kayaknya, pengen tau aja urusan orang lain. Tapi ya cuman pengen tau aja. Cukup sampe disitu. Jangan berharap lebih.


Jhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnngggggggggggg..

Sekarang suara pesawat mendarat yang ngebangunin Digi dari pikirannya. Digi ngelirik hanphonenya. Masih mati. Jam di tangannya udah nunjukin angka 10. udah lumayan lama juga dia disitu sendirian. Saatnya pulang kalo gitu.

Pikirannya masih kemana-mana. Perasaannya masih ngga nyaman. Dia perlu seseorang yang bisa nenangin dirinya. Tapi tiba-tiba semua orang menghilang..


11 SMS dan 20 MISSED CALLS

Digi kebangun ketika mendengar suara sms masuk dari hp yang lagi dicharge di samping kasurnya. Dengan setengah tidur, dia membaca sms yang masuk. Dari pacarnya.

“Maaf, Gi.. Hp-ku ketinggalan. Dan memang low batt. Jadi aku baru baca smsmu tadi. Aku baru pulang beberapa jam yang lalu. Aku seharian pergi, ada tugas kuliah dari dosenku, jadi aku seharin ngerjain tugas diluar. Dari tadi aku sms kamu pending semua. Aku telepon kamu juga ngga aktif. Kamu baik-baik aja?? Aku khawatir..”

Digi hanya membaca sms itu sekali, dan tidur lagi..